Kamis, 14 Februari 2013

Kisah Rasa Sakit Sakaratul Maut Nabi Idris A.S

“Kalau sekiranya kamu dapat melihat
malaikat-malaik at mencabut nyawa orang-
orang yang kafir, seraya memukul muka dan
belakang mereka serta berkata: ‘Rasakanlah
olehm u siksa neraka yang
membakar.’ (Niscaya kamu akan merasa
sangat ngeri) (QS. Al-Anfal {8} : 50).

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu
melihat di waktu orang-orang yang zalim
(berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul
maut, sedang para malaikat memukul
dengan tangannya (sambil berkata):
‘Keluarkanlah nyawamu!’
Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan
yang sangat menghinakan, karena kamu
selalu mengata kan terhadap Alloh
(perkataan) yang tidak benar dan karena
kamu selalu menyombongkan diri terhadap
ayat-ayat-Nya”. (Qs. Al-An’am : 93).

Cara Malaikat Izrail mencabut nyawa
tergantung dari amal perbuatan orang yang
bersangkutan, bila orang yang akan
meninggal dunia itu durhaka kepada Alloh,
maka Malaikat Izrail mencabut nyawa secara
kasar. Sebaliknya, bila terhadap orang yang
soleh, cara mencabutnya dengan lemah
lembut dan dengan hati-hati. Namun
demikian peristiwa terpisahnya nyawa
dengan raga tetap teramat menyakitkan.
“Sakitnya sakaratul maut itu, kira-kira tiga
ratus kali sakitnya dipukul pedang”. (H.R.
Ibnu Abu Dunya).

Di dalam kisah Nabi Idris a.s, beliau adalah
seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan
sholat sampai puluhan raka’at dalam sehari
semalam dan selalu berzikir di dalam
kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi
Idris a.s yang sedemikian banyak, setiap
malam naik ke langit. Hal itulah yang sangat
menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail.

Maka bermohonlah ia kepada Alloh Swt agar
di perkenankan mengunjungi Nabi Idris a.s.

di dunia. Alloh Swt, mengabulkan
permohonan Malaikat Izrail, maka turunlah
ia ke dunia dengan menjelma sebagai
seorang lelaki tampan, dan bertamu
kerumah Nabi Idris.

“Assalamu’alaik um, yaa Nabi Alloh”. Salam
Malaikat Izrail,
“Wa’alaikum salam wa rahmatulloh”. Jawab
Nabi Idris a.s.

Beliau sama sekali tidak mengetahui, bahwa
lelaki yang bertamu ke rumahnya itu adalah
Malaikat Izrail.

Seperti tamu yang lain, Nab i Idris a.s.
melayani Malaikat Izrail, dan ketika tiba saat
berbuka puasa, Nabi Idris a.s. mengajaknya
makan bersama, namun di tolak oleh
Malaikat Izrail.

Selesai berbuka puasa, seperti biasanya,
Nabi Idris a.s mengkhususkan waktunya
“menghadap”. Alloh sampai keesokan
harinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian
Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-
menerus berzikir dalam melakukan
kesibukan sehari-harinya, dan hanya
berbicara yang baik-baik saja.

Pada suatu hari yang cerah, Nabi Idris a.s
mengajak jalan-jalan “tamunya” itu ke
sebuah perkebunan di mana pohon-
pohonnya sedang berbuah, ranum dan
menggiurkan. “Izinkanlah saya memetik
buah-buahan ini untuk kita”. pinta Malaikat
Izrail (menguji Nabi Idris a.s).
“Subhanalloh, (Maha Suci Alloh)” kata Nabi
Idris a.s.

“Kenapa?” Malaikat Izrail pura-pura terkejut.

“Buah-buahan ini bukan milik kita”. Ungkap
Nabi Idris a.s.

Kemudian Beliau berkata: “Semalam anda
menolak makanan yang halal, kini anda
menginginkan makanan yang haram “.

Malaikat Izrail tidak menjawab. Nabi Idris a.s
perhatikan wajah tamunya yang tidak
merasa bersalah. Diam-diam beliau
penasaran tentang tamu yang belum
dikenalnya itu. Siapakah gerangan pikir Nabi
Idris a.s.

“Siapakah engkau sebenarnya?” tanya Nabi
Idris a.s.

“Aku Malaikat Izrail”. Jawab Malaikat Izrail.

Nabi Idris a.s terkejut, hampir tak percaya,
seketika tubuhnya bergetar tak berdaya.

“Apakah kedatanganmu untuk mencabut
nyawaku?” selidik Nabi Idris a.s serius.

“Tidak” Senyum Malaikat Izrail penuh
hormat.

“Atas izin Alloh, aku sekedar berziarah
kepadamu”. Jawab Malaikat Izrail.

Nabi Idris manggut-manggut , beberapa
lama kemudian beliau hanya terdiam.

“Aku punya keinginan kepadamu”. Tutur
Nabi Idris a.s
“Apa itu? Katakanlah!”. Jawab Malaikat Izrail.

“Kumohon engkau bersedia mencabut
nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada
Alloh SWT untuk menghidupkanku kembali,
agar bertambah rasa takutku kepada-Nya
dan meningkatkan amal ibadahku” . Pinta
Nabi Idris a.s.

“Tanpa seizin Alloh, aku tak dapat
melakukannya” , tolak Malaikat Izrail. Pada
saat itu pula Alloh SWT memerintahkan
Malaikat Izrail agar mengabulkan
permintaan Nabi Idris a.s.

Dengan izin Alloh Malaikat Izrail segera
mencabut nyawa Nabi Idris a.s. sesudah itu
beliau wafat.

Malaikat Izrail menangis, memohonlah ia
kepada Alloh SWT agar menghidupkan Nabi
Idris a.s. kembali. Alloh mengabulkan
permohonannya. Setelah dikabulkan Allah
Nabi Idris a.s. hidup kembali.

“Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku?”
Tanya Malaikat Izrail.

“Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup
dikuliti”. Jawab Nabi Idris a.s.

” Caraku yang lemah lembut itu, baru
kulakukan terhadapmu”. Kata Malaikat Izrail.

MasyaAlloh, lemah-lembutnya Malaikat Maut
(Izrail) itu terhadap Nabi Idris a.s.
Bagaimanakah jika sakaratul maut itu,
datang kepada kita? Siapkah kita untuk
menghadapinya?

1 komentar: